MENYIKAPI PENGHINAAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW.
6-11-20
Dalam pekan ini dunia disibukkan dengan berita
terbunuhnya dua belas orang di dekat kantor Majalah Charlie Hebdoh di Paris,
Prancis. Beberapa orang di antara mereka adalah kartunis/orang yang menggambar Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan penampilan yang buruk dan tidak pantas.
Jamaah sekalian, perbuiatan semacam ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh
orang-orang kafir yang membenci Islam dan membenci Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Mereka sering menampilkan nabi kita tercinta dengan tampilan
yang buruk, kejam, dan hina. Mereka namakan hal itu sebagai kebebasan
berekspresi tanpa peduli dengan perbuatannya, apakah menyakiti orang lain atau
tidak.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam khotbah yang singkat ini, ada beberapa hal yang
perlu disampaikan terkait kejadian tersebut. Pertama, Pentingnya kaum muslimin mengenali sifat fisik nabi dan akhlak
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, Menjelaskan ttg kebohongan barat yg mengatas namakan kebebasan berekspresi. Ketiga, mengapa kita sbagai umat Islam begitu marah ketika Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dihina dan dilecehkan Keempat, Apa hukuman bagi orang-orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dan kelima, apakah Islam
membenarkan tindakan main hakim sendiri dan aksi pembunuhan yg mengatasnamakan
islam, terhadap para kartunis tersebut.
Ibadallah,
Pertama: Mengenal sifat fisik dan akhlak Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Orang-orang yang membenci Islam telah beberapa kali
membuat kartun Nabi dengan tampilan yang keji, yang untuk menyebutkannya saja,
berat terasa bagi kita kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu
ditampilkan dengan sifat fisik yang buruk oleh orang-orang tersebut. Padahal
–kaum muslimin-, orang-orang kafir Quraisy yang begitu membenci Nabi, yang
selalu mencari-cari titik celah untuk menjatuhkan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, sama sekali tidak pernah mencela fisik Nabi.
Artinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
seseorang yang tidak bisa dicela secara fisik karena bagusnya dan sempurnanya
tampilan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama, di antaranya Imam
at-Tirmidzi telah membuat buku khusus, mengumpulkan riwayat-riwayat dari para
sahabat Nabi yang menjelaskan tentang fisik beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Di antara sahabat yang paling banyak bertutur tentang fisik Nabi adalah
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau lebih dari 20 tahun menjadi
pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ
أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ
“Beliau adalah orang yang paling dermawan,
paling tampan, dan paling pemberani.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari Anas
bin Malik radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat wangi
kulitnya dan keringatnya bagaikan kilau mutiara. Apabila beliau berjalan, maka
langkahnya terayun tegap. Sutera yang pernah aku sentuh tidak ada yang lebih
halus daripada telapak tangannya. Minyak misk dan minyak ambar yang pernah aku
cium, tidak ada yang melebihi wanginya tubuh Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anas juga
mengatakan, “Aku
tidak pernah memegang dibaj (satu jenis sutra) yang lebih lembut dari tangan
Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, telapak
tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat lembut, lebih lembut dari sutra.
Masih dari
Anas, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orangnya
berpostur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, fisiknya bagus. Warna (kulitnya)
kecoklatan. Rambutnya tidak keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan,
beliau berjalan dengan tegak.” (HR.
Tirmidzi).
Beliau
bukanlah orang yang terlalu tinggi sehingga membuat orang tidak nyaman
berbicara dengannya. Dan bukan juga orang yang pendek sehingga membuat orang
menunduk tatkala berbincang. Postur beliau adalah postur yang proporsional.
Dari
al-Barra’ bin Azib, beliau menceritakan,
مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ
فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku belum pernah melihat ada orang yang
rambutnya menjuntai ke telinga, dengan memakai pakaian merah yang lebih tampan
dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Tirmidzi).
Banyak
riwayat-riwayat dari para sahabat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah seorang laki-laki Arab yang tampan. Apabila di kalangan Arab saja
beliau adalah sosok yang sangat tampan, tentu kebagusan fisik beliau adalah di
atas rata-rata. Hal ini sangat jauh sekali dari apa yang digambarkan oleh para
kartunis pendengki tersebut.
Kemudian
berbicara tentan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu akan membuat kita
berdecak kagum. Sekiranya para penghina Nabi itu mengetahui, mereka akan malu
telah menghina Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah
Subhanahu wa Ta’ala
memuji beliau dengan firman-Nya,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ
عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Kedua: Kebohongan barat akan kebebasan berekspresi.
Kaum muslimin
rahimakumullah,
Sering
kita dengar, orang-orang yang menghina Islam dan menghina Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi
wa sallam beralasan “Ini adalah kebebasan berekspresi”. Mereka berupaya menghalalkan dan melegalkan bentuk penghinaan
atas nama kebebasan berekspresi.
Ketahuilah
kaum muslimin, bahwasanya kebebasan seseorang itu terikat dan bergantung kepada
kebebasan orang lain. Kami ulangi, kebebasan seseorang itu terikat dengan
kebebasan orang lain.
Contoh:
Radio, Rokok, termasuk Berbicara, melukis, menulis.
Artinya,
tidak ada kebebasan secara mutlak. Kebebasan secara mutlak berakibat seseorang
menerabas rambu-rambu yang terlarang. Kebebasan secara mutlak menjadikan dunia
ini kacau tanpa aturan. Dan kebebasan secara mutlak akan menimbulkan kerusakan yang
besar.
Ketika
orang-orang Barat menyerukan kebebasan berekspresi, hakikatnya mereka telah
berbohong dan berdusta. Kebebasan hanya untuk mereka dan ketidak-bebasan bagi
umat Islam. Prancis menyebutkan bebas berekspresi bagi para kartunis, sementara
Prancis sendiri sejak tahun 2004 melarang anak-anak muslimah untuk mengenakan
jilbab di sekolah. Tidak hanya itu, larangan jilbab juga dikenakan bagi para
orang tua atau pengasuh yang mengantar anak ke sekolah. Inikah yang mereka
sebut dengan kebebasan berekspresi?
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Khotib sama sekali tidak bermaksud menebar
kebencian. Dan khotib berharap, kita semua menjadi
pendengar yang cerdas yang tidak merespon hal ini dengan anarkisme dan
kebencian.
Ketiga: Mengapa umat Islam begitu marah ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallm dihina.
Ummatal
Islam,
Respon
kemarah kaum muslimin, umat Islam, terhadap karikatur hinaan kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi
wa sallam menunjukkan kecintaan umat Islam kepada beliau. Dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Tiga sifat yang jika ada pada diri
seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia
cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai
seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran—setelah Allah menyelamatkannya
darinya—sebagaimana
ia benci apabila dilempar ke dalam api.” (HR.
Bukhari).
Kecintaan
kepada Nabi Muhammad adalah syarat agar seseorang merasakan manisnya keimanan.
Bahkan dalam hadits lainnya, kecintaan terhadap beliau adalah syarat
sempurnanya iman.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى
أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di
antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan
segenap umat manusia.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Cinta
inilah yang membuat umat Islam marah ketika sang kekasih dihina dan
direndahkan. Rasa cinta yang tidak dimiliki bahkan mungkin tidak bisa
dimengerti oleh orang-orang yang tidak mengenal hidayah Islam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا
بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ
هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubarakan fiih...
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Keempat: Hukuman bagi orang-orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Dalam poin
keempat ini, pembahasan hanya kita fokuskan kepada hukuman yang layak bagi
orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibadallah,
Banyak
ayat dan hadits yang menjelaskan bahwasanya orang-orang yang menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi
wa sallam hukumannya adalah vonis mati. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ
مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ
يَسْتَهْزِئُونَ
“Dan sungguh telah diperolok-olokkan
beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan
di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (QS. Al-An’am: 10).
Dalil yang secara tegas menunjukkan hukuman mati
bagi penghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadis dari Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu,
beliau menceritakan,
أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ
تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ،
فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا
“Ada seorang wanita yahudi yang menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi
wa sallam, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat
sampai mati. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggugurkan hukuman
apapun darinya.” (HR. Abu Daud).
Kelima:
Menyikapi penyerangan terhadap para kartunis.
Setelah kita mengetahui bahwa para penghina Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
layak dihukum mati, jika melihat ketentuan syariah, pertanyaan yang muncul
selanjutnya, apakah kejadian penyerangan di Prancis tersebut dibenarkan?
Kaum muslimin rahimakumullah,
Salah seorang ulama besar Arab Saudi, Syaikh
Shaleh Fauzan bin Abdillaah al-Fauzaan hafizhahullah, ketika ditanya terkait
peristiwa ini beliau menjawab:
“Ini
bukanlah metode yang tepat. Ini akan menambah keburukan dan kemarahan mereka
kepada kaum muslimin. Akan tetapi, cara menolak mereka adalah dengan membantah
kerancuan tersebut dan menjelaskan perbuatan mereka yang sangat memalukan itu.
Adapun membela (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dengan tangan dan
senjata, maka ini hanyalah untuk para pemerintah kaum muslimin dan hanya
melalui jihaad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.”
Dan dalam fatwa Syaikh Shaleh Fauzan juga
dijelaskan bahwa yang berhak menghukum pelaku penghinaan tersebut adalah
pemerintah bukan setiap orang.
Kejelian dari fatwa beliau telah terbukti, tidak
menunggu lama, fasilitas-fasilitas umat Islam di Prancis pun diserang oleh
orang-orang tak dikenal. Gelombang islamphobia pun meningkat. Lebih buruk dari
itu, kartun-kartun keji tentang Nabi Muhammad semakin banyak beredar.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dengan
demikian, menghadapi isu ini yang kita utamakan adalah membalasnya dengan
argumentasi. Menyebarkan kebenaran dan terus menebar simpati dengan akhlak yang
mulia. Karena kebencian yang paling ditakuti oleh orang2 kafir adalah
ketika kaum muslimin mendalami agamanya dan berpegang teguh dengan agamanya,
berperilaku mulia.
Mudah-mudahan penjelasan lima poin di atas
merupakan salah satu dari upaya untuk menjelaskan kepada umat Islam agar lebih
kenal dengan Nabi Muhammad dan sebagai bentuk bantahan dari tuduhan dusta yang
dilemparkan oleh orang-orang yang membenci Islam.
INNALLOHA WAMALAIKATAHU YUSHOLLUNA ALANNABI
ALLAHUMMA SHALLI ALAM MUHAMMAD....
DOA